Showing posts with label kritik. Show all posts
Showing posts with label kritik. Show all posts

Kritik Kultural; Hanya Menyorot Aib Sebuah Teks?

Kritik Kultural 'Cultural Criticism / al-Naqd al-Tsaqafi' adalah salah satu produk terbaru dalam dunia kritik pada umumnya. Metode ini mengkonsentrasikan diri pada dimensi kultural sebuah teori kritik.

Metode yang terbilang hadir pada tahap postmodernisme ini merupakan tahap mutakhir dari sekian loncatan spesifik di dunia teori kritik yang berkisar pada polemik kesastraan sastra – metakesastraan sastra 'adabiyyatul adab – mitaadabiyyatul adab'. Oleh sebab itu pertanyaan sentral dan signifikan yang dicuatkannya adalah "Apakah dalam karya sastra terdapat 'sesuatu yang lain' selain kesastraan?"

Dalam prakteknya, kritik kultural berupaya untuk mentransformasi perangkat kritik dari proses pembacaan estetis murni tanpa memandang ketimpangan-ketimpangan sistem yang ia miliki, menuju kritik dan penyingkapan ketimpangan-ketimpangan sistem sebuah wacana.

Dalam kategori sastra Arab misalnya, kritik kultural melihat adanya sistem-sistem kultural 'negatif' yang terimbas dari dan oleh karya sastra secara umum, dan puisi secara khusus. Pada tahap selanjutnya, ide dan nilai tertentu yang dikandung oleh karya-karya sastra ini berhasil melembagakan prilaku non-manusiawi dan non-demokratis di kalangan individu maupun komunitas Arab.

Pada intinya, kultur Arab -dimana puisi dinilai sebagai sesuatu yang paling urgen-, divonis telah memicu proses puitisasi diri dan norma. Puisi yang bernotabene 'Diwanul Arab' dijadikan sebagai standar dan kriteria dalam memandang segala bentuk nilai dan norma.

Oleh sebab itu, tugas utama yang diemban oleh kritik kultural adalah menelusuri ketimpangan-ketimpangan sistem pada profil Arab yang puititatif, sebagaimana terkandung dalam Diwanul Arab yang nampak jelas pada prilaku sosial dan kultural secara umum.

Tugas seperti ini sangat berlawanan dengan apa yang digeluti oleh kritik sastra 'Literary Criticism / al-Naqd al-Adabi' yang memfokuskan diri pada lini estetis teks. Kritik sastra di mata kritik kultural telah berhasil mengetengahkan ke dunia kesusastraan seni apresiasi dan resepsi estetis teks. Akan tetapi ia telah gagal dalam memproteksi diri dan dunia kesusastraan untuk tidak tergelincir ke dalam kondisi kebutaan kultural yang universal terhadap ketimpangan-ketimpangan sistem yang terselubung di balik tirai estetis. Ketimpangan-ketimpangan ini terus berkembang dan mendapat dukungan estetis; puitis maupun retorik, hingga menjadi sebuah simpel prilaku yang menghegemoni mental maupun fisik. Yang sangat disayangkan bahwa di luar kesadaran, simple-simpel yang sangat elegan ini telah menjadi sumber-sumber ketimpangan sistem.

Jadi, apa yang nampak sebagai sesuatu yang estetis dan modernis dalam standar studi sastra, adalah sesuatu yang reaksionis dan terkebelakang dalam standar kritik kultural.

***

Pada diri kultur Arab itu sendiri terdapat ketimpangan sistem yang berperan dalam membentuk sebuah wacana munafiq dan termanipulasi, tidak realistis, semu dan tidak rasional. Para pujangga di sepanjang sejarah kesusastraan Arab dinyatakan tidak luput dari tanggung jawab moral dimana mereka telah terlibat langsung dalam meletakkan dan mengembangkan wacana-wacana yang berpredikat buruk seperti itu.

Gambaran 'Aku yang tirani / ana t-thaghiyah', bukanlah suatu bentuk yang telah mengakar pada diri komunitas Arab, dan bukan sesuatu hal yang orisinal pada individu-individunya. Ia merupakan hasil lukisan kreasi puitis yang telah membias ke seluruh wacana dan prilaku budaya. Pada kesimpulannya, sistem kultural Arab secara universal adalah sebuah sistem yang dikuasai oleh sebuah lembaga bernama puisi. Sebuah lembaga yang menjadi subyek utama dalam pembentukan, pengembangan dan keberlansungan sistem kultural Arab.

Tidak bisa diingkari, puisi merupakan salah satu pilar terpenting dalam pembentukan profil Arab, yang telah mewarisi segala kebaikan dan keburukan yang dikandungnya. Ia telah memberikan nilai-nilai moral dan estetis yang sangat agung.

Akan tetapi yang perlu dikoreksi kembali adalah adanya komposisi-komposisi orisinal dari profil Arab itu sendiri telah dibentuk oleh puisi secara negatif; sektarian dan penuh egois, yang menciptakan corak-corak prilaku dan kultural yang selanjutnya menjadi ciri sangat signifikan dalam kehidupan komunitas Arab di sepanjang sejarah.

Apa yang dikenal dengan puisi pujian / al-mahid, telah memperkenalkan sebuah sistem moral yang seiring dengan waktu, tumbuh berkembang dan memformat sebuah gambaran akan hubungan sosial antar golongan di masyarakat Arab. Corak puisi semacam ini berpijak pada landasan kebohongan yang diterima oleh seluruh kalangan; pemuja, yang terpuja dan kalangan kultural di sepanjang masa. Semuanya menerima seni permainan kebohongan dan kemunafikan ini, bahkan ikut serta meramaikan dan menikmati, hingga permainan seperti ini menjadi sebuah tradisi sosio-kultural yang diminati dan dinantikan kehadirannya.

Puisi pujian adalah seni estetis paling efektif dalam kesusastraan Arab di masa keemasannya, sehingga wacana pujian seperti ini berhasil melekat pada pikiran dan jiwa komunitas Arab, meskipun tidak luput dari sketsa-sketsa yang sangat berbahaya, di antaranya; sketsa kultur pengemis munafiq, dan sketsa sang terpuja yang sarat dengan sifat-sifat yang terkemas puitis, egois, dan maha tinggi, jauh di atas garis realita dan kenyataan.

Pada corak dan tipe selanjutnya, puisi dan para pujangga telah membumikan nilai-nilai negatif pada kehidupan komunitas Arab. Nilai-nilai ini dapat simpulkan dari perkataan seorang pujangga bahwa, "Seorang penyair yang tidak memuji, tidak menghina, dan tidak membanggakan diri, hanya dinilai seperempat penyair saja". Oleh karena itu gambaran nyata dari kehidupan puisi Arab akan mengetengahkan profil penyair pengemis lugas dan cendikiawan munafiq (dalam al-madih), penyair tirani (dalam al-fakhr), dan penyair jahat nan menakutkan (dalam al-hija').

Di samping hal tersebut di atas, kharisma dan kepopuleran puisi telah memikau para kritikus dan kaum cendikia Arab yang terhimpun dalam dunia kritik sastra. Mereka terpicu dalam sebuah orientasi pengkristalan ide dan pemikiran yang mencerminkan ketimpangan sistem kultural Arab.

Hal seperti ini –misalnya- dapat kita temui dalam 'ide penyair superior / fikratu l-fahl', yang oleh kritik kultural dinilai sebagai kreasi puitis - kultural paling berbahaya, apalagi karena ide seperti ini berhubungan dengan konsep 'tingkat superior penyair / tabaqatu fuhuli sy-syu'ara', yang sarat dengan sikap individualis dan kesombongan. Mereka menempatkan para penyair sebagai 'para raja bahasa / asy-syu'arau umaraul kalam'. Ide seperti ini juga diaplikasikan secara munafiq ketika mereka meletakkan konsep Ilmu Balaghah Klasik yang mereka identikkan dengan "Menggambarkan kebenaran dalam bentuk kebathilan dan kebathilan dalam bentuk kebenaran".

'Aku seorang superior / ana l-fahl' adalah adegan yang sangat mendominasi dunia teks puisi Arab. Dengan demikian teks-teks tersebut dinilai sebagai sumber pengilhaman sikap narsisme pada diri bangsa Arab. Sikap pembesaran diri ini diiringi oleh keinginan kuat untuk menghapus keberadaan orang lain 'tadhkhimu z-zat wa ilghau l-akhar'.

Akan tetapi, apakah ada yang lebih terkutuk ketika menghilangkan keberadaan orang lain, dilakukan melalui tindakan lalim dan sikap tirani? Pelu diketahui bahwa, kelaliman seorang superior, bukan sekedar kelaliman reaktif, akan tetapi kelaliman yang aktif dan orisinal.

Seorang di antara mereka berteriak angkuh;
Bughatin zhalimina wa ma zhulimna #
Wa lakin sanabdau zhalimina
Para tirani, orang-orang lalim dan kami tak pernah terlalimi #
Bahkan kami akan memulai bersikap lalim

Apa yang disaksikan oleh dunia Arab dewasa ini, tidak lain adalah buah dari nilai-nilai negatif yang dikandung oleh teks-teks dan pemikiran puitis seperti di atas. Apa yang mewarnai wacana politik, pers, sosial, budaya, olahraga dan bahkan seluruh lini kehidupan Arab dewasa ini, adalah aplikasi dari ide "Ana l-fahl" dan konsep Balaghah Arab klasik "Tashwiru l-bathil fi shurati l-haqq".

***

Nampaknya, kritik kultural dalam mengetengahkan teori kritiknya berpijak pada sejumlah realita kehidupan yang menyentuh titik problematika yang dihadapi dunia Arab. Dan dalam proses analisa, kritik kultural mendapatkan teks-teks kesusastraan sebagai akar dan sumber pengilhaman terhadap problematika tersebut.

Ini merupakan titik lemah pada diri kritik kultural, karena ia bertolak dari kasus dan realita, dan tidak bertolak dari teks-teks kesusastraan itu sendiri. Perlu diketahui bahwa pilar-pilar yang membentuk kritik kultural ini di latar belakangi oleh sejumlah teori dan studi yang pada umumnya mengulas teori interaksi terhadap kultur dan bukan teori interaksi terhadap teks.

Oleh sebab itu mereka terkesan sangat dekonstruktif dalam menganalisa corak-corak puisi. Padahal teks-teks seperti ini sangat sarat dengan makna dan kemungkinan. Teks-teks kesusastraan adalah dunia simbolik yang membutuhkan proses interpretasi dan hermeneutika yang lebih empatik.

Dan ketika kritik kultural membabat habis sikap studi-studi yang hanya memperhatikan sisi estetis sebuah teks, maka sungguh kritik kultural ini pun telah jatuh pada lobang yang sama; ketika ia melihat bahwa sebuah teks hanya berwajah tunggal; hanya memiliki aib. Kritik kultural pun telah gagal ketika hanya menyoroti aib sebuah teks.@uS

Teori Kritik Arab ?!? [3-3]

Sastra kreatif yang ditulis dalam bahasa asing –secara relatif- dapat dikategorikan sebagai kreasi Arab, dan selanjutnya, kritik yang ditulis dalam bahasa asing juga bisa dikategorikan –secara relatif- sebagai kritik Arab.

Kita dapat memutuskan –secara spekulatif- bahwa kita betul-betul memiliki sumbangsih-sumbangsih teoritis dalam dunia kritik internasional. Hal ini nampak jelas ketika kita mengemukakan tiga kelompok atau tiga contoh nyata dari sumbangsih-sumbangsih tersebut.

Kelompok pertama: adalah apa yang biasa dinamakan dengan kritik oksidentalisme, yaitu kritik yang ditulis dalam bahasa-bahasa Barat yang dilakukan oleh orang-orang Arab yang memberi sumbangsih-sumbangsi teoritis kritik mereka dengan menggunakan bahasa-bahasa Barat, terutama bahasa Inggris dan Prancis. Secara khusus saya akan menyebutkan tiga kritikus yang tak seorang pun berbeda pendapat akan ke-Araban dan prestasi serta sumbangsih-sumbangsih mereka dalam mengembangkan teori-teori kritik internasional.

Contoh pertama: Edward Said yang telah mengemukakan teori utamanya yang bertolak dari orientalisme. Edward Said setidaknya adalah tokoh utama dalam teori post-kolonialisme. Ia juga merupakan salah satu pendiri penting dari kritik budaya dan analisa wacana. Edward Said menggunakan ideologi ke-Araban yang secara gigih membela hak bangsa Arab di Palestina, dan hal tersebut sama sekali tidak menutupi pilar pemikiran teoritisnya. Dan ini adalah kejeniusan seorang Edward Said.

Dia berhasil menggabungkan dua hal yang berlawanan; semangatnya yang tinggi dan pembelaannya yang gigih terhadap hak, eksistensi dan identitas Arab, berawal dari tulisan-tulisannya tentang orientalisme dan kemampuannya dalam merepresentasi hal tersebut secara ilmiah dan subyektif. Hal ini mengantarnya untuk meraih penghargaan dari seluruh bangsa Barat. Kita mengenalnya seteleh ia dikenal dan diakui oleh dunia internasional. Setelah ia membentuk diri dan menjadi salah seorang pendiri pemikiran kritik internasional.

Kita tidak dapat menghilangkan sifat ke-Araban dari Edward Said. Kita tidak dapat mengatakan bahwa sumbangsih-sumbangsih mumpuni dan efektif dalam bidang-bidang teori kritik kontemporer tidak memiliki sifat ke-Araban. Betul bahwa sebagian representasi, contoh dan analisanya tidak berbahasa Arab. Ia tidak mengecap kebudayaan Arab secara maksimal, meskipun ia sempat melewati jenjang pendidikan primer di Mesir pada dekade 40-an dan 50-an, lalu hijrah ke Amerika pada usia dini. Akan tetapi ia selalu menghabiskan masa liburnya dekat dengan Mesir yaitu di Beirut dan Syam, karena ia dicekal masuk ke Mesir karena masalah perdagangan. Ia menghabiskan waktunya di Beirut dengan melakukan diskusi dengan Sharl Malik; filosof kawakan Syam, untuk membela nasserisme. Edward Said adalah simbol perjuangan yang menakjubkan dan mengagumkan.

Contoh kedua: walaupun tidak setenar Edward Said, akan tetapi ia tetap sangat penting; Mushtafa Shafwan; salah seorang pendiri kritik struturalisme Prancis. Dialah yang menulis pasal khusus tentang kritik strukturalisme dalam sebuah buku memori bersama yang koordinasi oleh Todorov. Dia adalah murid Lakan; cendikiawan terkenal Prancis. Dia mewarisi dan mengembangkan mazhabnya, memarisi kliniknya di Paris dan memangku direksinya sekarang ini. Mushtafa Shafwan termasuk diantara pemberi sumbangsih utama dalam teori-teori strukturalisme dan post-strukturalisme dalam konteks ke-Prancisan. Betul bahwa sebagian pikiran-pikiran dan teori-teorinya tidak sejalan dengan kita, yang memaksa kita melakukan tindakan preventif, seperti seruannya sejak beberapa tahun yang lalu tentang pentingnya penerjemahan dalam bahasa ammiyah, dan contoh yang ia kemukakan berupa terjemahan Hamlet dalam bahasa Ammiyah Mesir. Akan tetapi kita tidak dapat mengingkari karya Mushthafa Shafwan dalam dunia kritik internasional.

Contoh ketiga: tidak jauh dari hal tersebut di atas; Ehab Hassan; seorang filosof post-modernisme, pencetus teori-teori teks, salah seorang tokoh pemikiran kritik Amerika. Betul bahwa ia terkadang menampakkan sikap preventif terhadap ke-Araban dan ke-Mesirannya. Dan itu adalah hak dia, sebagaimana kita berhak menerima atau menolak hal tersebut. Akan tetapi apa yang ia tulis dapat dikategorikan berindentitas Arab – Mesir. Dan ia juga dapat dikategorikan sebagai kritikus oksidentalis.

Kelompok kedua: dari aliran-aliran yang turut memberi sumbangsi dalam pengembangan pemikiran kritik teoritis kontemporer, terbagi kepada dua golongan. Dalam kritik Arab –misalnya- berkembang khususnya pada dunia akademik sebuah kelompok stylistics / al-uslubiyyah. Kelompok ini mengetengahkan kepada kita fenomena mengagumkan akan kemampuannya dalam memberi kontribusi teoritis dan terapan dalam pemikiran kritik internasional. Atas dasar faktor-faktor ini, saya menyimpulkan kenapa kelompok ini dapat diterima, disambut dan menyebar pada seluruh tataran kebudayaan Arab.

Kelompok al-uslubiyyah ini muncul dalam pemikiran Arab sejak dua generasi yang lalu. Berawal dari Amin al-Khuli, Ahmad al-Syayib, Al-Zayyat dan sejumlah tokoh yang mengingingkan terciptanya uslubiyyah Arab. Akan tetapi ia dikenal dan berkembang serta membuahkan hasil pada paruh kedua adad keduapuluh, melalui sejumlah pusat-pusat produksi ilmiah pada studi-studi akademik dan studi-studi terapan di seluruh penjuru dunia Arab; dari ujung timur Afrika di Maroko tempat berkembanganya aliran uslubiyyah di tangan tokoh-tokoh seperti: 'Abdussalam al-Misaddi, Muhammad al-Hadi al-Tarabelsi, Hammadi Shammud, Muhammad al-'Umari, dan Al-Hamid al-Hamadani. Di negeri Syam tedapat tokoh-tokoh uslubiyyah yang memiliki kapabilitas keilmiahan yang mumpuni seperti: Munzir al-‘Ayyasy yang telah menerjemahkan dasar-dasar dari studi-studi uslubiyyah.

Dan kita dapat merepresentasikan perealisasi sesungguhnya dari aliran uslubiyyah dalam tulisan-tulisan Syukri 'Ayyad, Mushthafa Nashif, Muhammad 'Abdul Muththalib, Sa’ad Mashluh dan penulis makalah ini.

Pengembangan paradigama, teoritis dan terapan yang subur dan kaya, yang telah dilakukan oleh kritikus-kritikus yang membahas puisi, cerita, novel dan wacana kesusastraan pada umumnya dengan analisa-analisa uslubiyyah, merupakan kontribusi sesungguhnya kepada pemikiran kritik kontemporer.

Kelompok ketiga dan terakhir: yang saya nilai telah mengemukakan sampel sesungguhnya dari kontribusi Arab dalam teori-teori kritik kontemporer, adalah kelompok yang sering disebut dengan kritikus puisikal / syi’riyyah. Puisikal adalah terminologi yang tidak hanya terbatas pada ragam puisi saja. Akan tetapi juga meliputi narasi-narasi dan ragam perkataan lainnya. Dan sekiranya saya menyebut tokoh-tokoh di bidang ini, maka saya tidak akan dapat memenuhi hal-hal terpenting yang mereka miliki. Akan tetapi saya tidak dapat melupakan nama-nama vocal seperti: 'Izzuddin Ismail, Jabir 'Asfour, Mahmud al-Rabi’i, Shabri Hafizh, Kamal Abu Dib, Muhammad Miftah, Muhammad Barradah, 'Abdul Fattah Kilithu, Said Yaqthin, Faishal Darraj, dan 'Abdullah al-Ghazzami. Bahkan dapat dikategorikan dalam bagian ini sebagian dari kreator senior yang turut memperkaya studi-studi puisikal, seperti Adonis dalam tulisan-tulisannya tentang puisikal. Dan dilanjutkan oleh generasi baru yang terdiri dari penulis dan kritikus muda. Saya yakin bahwa tulisan-tulisan mereka telah memberi nilai tambahan yang sesungguhnya terhadap teori puisikal yang dapat mempersonifikasikan kontribusi Arab kepada kita semua.

Yang menjadi permasalahan adalah penjara bahasa. Dengan kata lain bahwa penulis –siapapun dia- yang pintar akan menerbitkan novel, karena novel adalah suatu hal yang mudah disusun dan keuntungan publik, prilaku dan moral sangat memadai. Dan sangat mudah kita dapatkan orang-orang yang mampu menerjemahkannya. Akan tetapi siapa yang mumpuni dalam menerjemahkan sebuah pasal dari pasal-pasal yang memiliki pemikiran yang dalam dan hakiki yang telah diketengahkan oleh sosok seperti Mahmud Amin al-'Alim, seorang profil yang telah banyak memberi kepada generasi-generasi sekarang ini.@uS

Teori Kritik Arab ?!? [2-3]

Termimologi Rancu.
Hasil yang dapat kita deduksi dari defenisi dasar di atas; bahwa terminologi “Teori Kritik Arab” adalah terminologi rancu. Saya telah menulis sebuah makalah dengan judul seperti ini lima belas tahun yang lalu, karena saya melihat adanya kontradiksi antara dua sisi dari termeinologi tersebut. Sebuah teori untuk dapat dikategorikan “teori”, ia harus memiliki ciri kemanusian dan bersifat global untuk seluruh bangsa. Dan untuk menyandang sifat “’’Arabiyyah / ke-Araban” ia harus memiliki ciri kebangsaan yang berhungan dengan indentitas kebangsaan yang terbatas. Maka mengumpulkan keduanya merupakan proses penggabungan hal-hal yang kontradiktif.

Ketika kita memaparkan sejarah teori-teori, kita tidak dapat berbicara tentang teori Prancis dalam ilmu pengetahuan, atau teori Inggris dalam seni, karena kemungkinannya adalah apakah dengan klaim seperti ini akan menjadikan teori itu tergolong ilmiah atau tidak. Adapun masalah; dimana ia muncul? Dalam bahasa apa ia berkembang? Dan dari rahim budaya mana ia dilahirkan?, merupakan tema lain yang tidak dapat dijadikan alasan untuk memberikan sifat kebangsaan kepadanya, atau menisbatkannya kepada sebuah identitas atau bahasa. Akan tetapi yang kita saksikan pada lingkup internasional, adalah adanya kontribusi-kontribusi radikal melembaga yang dilakukan oleh bangsa-bangsa yang beragam.

Dalam teori-teori kritik –secara khusus- tentu saja terdapat kontribusi-kontribusi Prancis, Inggris, Jerman dan Amerika terhadap teori-teori kritik kontemporer. Lalu apakah ada kontribusi-kontribusi Arab dalam teori-teori kritik kontemporer tersebut?

Teori adalah sebuah sistem berpikir homogenis yang memiliki sejumlah syarat. Munculnya sebuah teori mesti seiring dengan adanya kemampuan berpikir sistematis tentang sejumlah prinsip yang solid dan mengantarnya kepada tahap yang sangat abstraktif dan integral di satu sisi, dan dapat diterapkan secara ilmiah pada sisi lainnya. Hal seperti ini membutuhkan ruang kebebasan yang luas. Seorang teoretikus tidak mesti konsisten dengan hal-hal permanen atau bertolak dari aksiomatis yang tidak dapat dilanggar, karena jika hal itu terjadi, ia hanya akan berpungsi sebagai penjelas, dan bukan seorang teoretikus.

Maka syarat utama untuk menciptakan teori adalah memiliki kebebasan dan kemampuan untuk melepaskan diri dari ideologi; kepercayaan religius, aliran-aliran politik, kecenderungan pribadi dan ambisi nasional.

Pemilikan seorang peneliti terhadap kebebasannya yang utuh merupakan titik tolak utama menuju sikap filosofis, karena sikap yang dimulai dengan mengasumsikan hal-hal yang aksioma dan permanen yang tidak dapat dilanggar, sama sekali tidak melebihi status sebagai penjelas dari prinsip-prinsip dan hal-hal yang aksioma tersebut.

Dalam pemikiran Arab, menurut hemat saya, -semoga saya tidak salah- terdapat nalar-nalar matang dan bakat-nakat murni serta kemampuan yang dimiliki oleh orang-orang kita sendiri yang memiliki pilar-pilar filosofis dan keberanian yang direfleksikan oleh kebebesan.

Syarat kedua: bahwa struktur-struktur teoritis tidak lahir sekaligus, akan tetapi ia selamanya tercipta dalam komunitas-komunitas dan rahim-rahim yang dapat mendukung dan melindunginya. Dalam arti bahwa sebuah struktur teoritis tidak dimulai dari titik nol. Ia selamanya bertumpu pada prestasi-prestasi sebelumnya yang dipilah oleh peneliti secara seksama, lalu dijadikan tumpuan sesuai dengan konsep pemikiran akumulasi epistimologi. Kemudian ia mengaflikasikan bagian-bagian yang ia pilah untuk memproduksi sampel teoritis, dengan merealisasikan apa yang disebut dalam epistemologi dengan alienasi epistemologi.

Sebagaimana diketahui bahwa terminologi “alienasi epistemologi / al-qathi’ah al-ma’rifiyyah” adalah terminologi bereputasi jelek dalam kebudayaan Arab, karena ia selalu dipahami sebagai penghapusan masa lalu dan ketidak pedulian terhadap tradisi serta melompatinya. Padahal terminologi ini tidak berarti seperti itu. Alienasi epistemologi adalah mengkomsumsi habis-habisan karya-karya masa lalu dalam waktu tertentu -dan tidak berarti mengenyampingkan dan melompatinya- untuk selanjutnya membangun konsepsi yang kontra dengan karya-karya masa lalu tersebut. Akan tetapi sekiranya akumulasi ini tidak ada, maka kita sebagai teoretikus dan cendikiawan tidak dapat menciptakan alienasi. Artinya, saya tidak mengalienasi apa yang saya tahu dan melewatinya, akan tetapi saya mengalienasi apa yang saya tidak tahu.

Dengan demikian, kita mengatakan bahwa syarat kedua: adalah akumulasi epistemologi, atau kita seharusnya membangun struktur-struktur kita dengan bertolak dari prestasi-prestasi orang lain, karena setiap pekerjaan atau pikiran yang dimulai dari titik nol, tidak akan dapat mengkualifikasi seseorang ke struktur teoritis konperhensif.

Barangkali kita memiliki ciri yang membantu ciri akumulasi epistemologi yaitu ciri kebaktian, yang tercermin pada guru-guru generasi kita ini. Kita semua beranggapan bahwa diri kita ini adalah perpanjangan dari aliran para pemikir seperti Thaha Husain, Ahmad Amin, 'Abbas al-'Aqqad, Zaki Najib Mahfuzh dan seterusnya.

Di sini jelas bahwa akumulasi epistemologi setidaknya terealisasi pada diri kita, sebagaimana syarat pilar filosofis terealisasi, meskipun syarat akumulasi keilmiahan tidak terealisasi sesuai dengan kadar yang diharapankan; belum membentuk kreasi seni, dan belum menjadi tabiat riset kita. Kita mesti berusaha keras untuk menjadikannya sebagai tabiat riset kita dan bagian dari tradisi ilmiah kebangsaan.

Syarat ketiga: adalah syarat problematik, yang saya namakan dengan menerobos rintangan. Pemikiran regional yang terbatas tidak akan dapat memproduksi pigur pemikiran pada tingkat kemanusian yang konperhensif, kecuali ketika ia dapat menerobos sejumlah rintangan.

Menurut saya ada tiga penghalang utama yang mesti diterobos:
Rintangan pertama: adalah rintangan dalam melakukan komunikasi langsung dengan produk kemanusian. Seorang pemikir harus mempunyai jalur yang menghubungkannya dengan produksi kemanusiaan; bahasa kedua selain bahasa ibunya yang ia gunakan dalam berbicara dan menulis. Barangkali ada orang yang mengatakan, bahwa terjemahan telah mengemban tugas seperti ini. Akan tetapi –menurut saya- terjemahan hanya akan memberikan; apa yang diinginkan oleh penerjemah, apa yang diperbolehkan oleh orang lain, dan tidak menyodorkan kepada kita pengetahuan yang kita inginkan di saat kita butuh untuk mengetahuinya. Dengan demikian seorang cendikiawan, peneliti dan pemikir serta mereka yang berkeinginan mempunyai pilar teoritis, sumbangsih kemanusiaan, mesti memiliki jalur yang menghubungkan mereka secara langsung dengan produk kemanusiaan, dan rintangan seperti ini mesti ia terobos.

Rintangan kedua: yang lebih rumit dan detail, yaitu rintangan psikologi dan ideologis. Misalnya: kita melewati masa dimana permusuhan –terhadap Barat secara umum, dan terhadap Amerika secara khusus- telah menjadi slogan-slogan keseharian yang kita angkat siang malam, mengutuk Bush, memaki penjajahan, memusuhi Barat dan mengambil sikap kontra terhadapnya, dimana Barat mengkonspirasi, memerangi dan menuduh kita sebagi teroris serta memporak-porandakan bangsa kita. Sepintas, hal-hal tersebut di atas akan membentuk rintangan psikologi dan ideologis. Dan orang-orang yang mengekspos hubungan intim dengan Barat, sekarang ini menjadi malu dengan apa yang mereka lakukan. Saya adalah salah seorang diantara mereka yang malu dengan hubungan seperti ini. Saya tidak sanggup untuk membongkar rahasia ini, karena sejumlah kondisisi kejiwaan, kebangsaan dan nasional, yang pasti akan menempatkan kita dalam posisi krisis. Akan tetapi, apakah hal seperti ini akan membawa kita untuk memperkuat alasan-alasan alienasi dari konteks produksi ilmu pengetahuan terutama pada ilmu-ilmu natural dan humaniora, karena Barat yang terkutuk ini melancarkan perang kepada kita?!

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin mememori sebuah sikap serupa, yang dihadapi oleh generasi pelopor itu sendiri; generasi Thaha Husain yang kita jadikan sebagai teladan, dimana ia lahir pada sebuah negeri yang dijajah oleh orang-orang Eropa -di saat Amerika belum memenuhi syarat untuk dapat dikategorikan sebagai sebuah negara adi daya-. Bagaimana sikap Thaha Husain terhadap penjajahan? Ia menghadapinya dengan sikap nasionalisme, menjalin persahabatan yang kuat, intim dan kaya dari sudut keilmiahan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Bagaimana ia dapat memberi solusi terhadap problematika dengan sangat pleksibel di kalangan generasi muda di masanya? Ia tidak melarang generasi muda Arab yang sedang melawan kekuatan kolonial Barat untuk mengajukan –misalnya- pertanyaan-pertanyaan tentang rahasia kemajuan Anglo-Saxon, mendengungkan kebudayaan Prancis atau kebudayaan-kebudayaan dan prestasi-presasi pemikiran, keilmiahan dan kreasi Barat. Karena hal ini adalah masalah yang sama sekali tidak berhubungan dengan masalah kolonialisme. Mereka melakukan hal itu bukan karena sekedar tipuan cerdik untuk melepaskan diri dari krisis. Akan tetapi untuk mencari perangkat-perangkat perlawanan sesungguhnya. Karena melawan penjajahan tidak mungkin hanya dengan memiliki senjata yang tidak mampu kamu produksi dan bukan dengan prangkat-prangkat yang kamu tidak kuasai pengaplikasiannya. Akan tetapi solusi itu dengan memiliki ilmu, seni dan pengetahuan.

Rintangan ketiga: apa yang saya namakan dengan rintangan wawasan. Misalnya: berbicara tentang kritik sastra, maka terdapat sastra-sastra kemanusian lainnya yang kaya seperti sastra Arab. Dan sekiranya para kritikus dan teoretikus kita dapat memberi kontribusi terhadap teori epistimologi kritik, maka perhatian mereka seharusnya tidak hanya terbatas pada prestasi dan karya sastra Arab saja. Akan tetapi juga harus memperhatikan prestasi dan karya kemanusiaan secara umum sehingga mereka dapat mendeduksi tata cara produksi. Pemikiran lokal tidak cukup untuk menciptakan pemikiran kemanusian yang universal. Misalnya: kita belum dapat menciptakan teater dengan kadar memadai. Kita telah berusaha mengembangkannya di komunitas Arab dalam kurung dua abad dan belum berhasil menuai hasilnya. “Direksi teater” gagal pada umumnya. Dan hal ini berbuntut pada realita yang menyatakan bahwa teater hanya sekedar pementasan-pementasan lawak, pengeksposan tubuh, nyanyian dan seterusnya. Akan tetapi apakah kita putus asa terhadap teori teater, karena kita gagal mengembangkannya di komunitas Arab, dan belum mendapatkan warisan dari karya-karya Taufiq al-Hakim di masa sekarang ini. Akan tetapi teater dunia mempekenalkan kepada kita aliran-aliran lain. Menurut hemat saya, seorang yang mempelajari kritik sastra mesti melewati wawasan lokalnya yang terbatas, untuk mampu memberi sumbangsih teoritis yang lebih signifikan.@uS

Teori Kritik Arab ?!? [1-3]

Apakah ada teori kritik Arab? Sebuah pertanyaan hangat dan mendesak yang telah saya lontarkan kepada diri saya sendiri sejak dua dekade lalu. Pertanyaan serupa pun kemudian saya dengar dari para peneliti dan aktifis di dunia pers sastra sejak era tersebut. Jawaban terhadap pertanyaan ini cukup beragam; berkisar pada mayoritas menafikan - minoritas menaruh harapan.

Ini adalah sebuah pertanyaan krusial karena menyangkut identitas dan prestise bangsa, berhubungan dengan bahasa dan prestasi kebudayaan umat ini. Dengan demikian, itu bukan pertanyaan sepele atau dangkal, melainkan pertanyaan yang juga bisa berbunyi seperti ini: “Apakah ada kritik Arab?”, sebuah pertanyaan yang menampakkan nada sangat optimis, menyisyaratkan sebuah kelegaan akan kreasi Arab yang telah menampakkan eksistensinya, meraih reputasi internasional dan terus memper dalam orientasinya dalam bentuk yang dapat memberi kepercayaan yang lebih tinggi. Akan tetapi –disamping kelegaan ini- juga mengisyaratkan adanya kegelisahan terhadap pemikiran kritik dan tanda tanya terhadap problematika-problematikanya.

Hanya saja, pertanyaan ini mengandung kadar kontradiktif yang nampak jelas sejak semula, karena 'ketidak hadiran teori' tidak terbatas pada dunia kritik sastra di era Arab kontemporer sekarang ini, akan tetapi mencakup seluruh lini kehidupan. Sebagai contoh; suatu hal yang aneh dalam bidang filsafat, karena problematika seperti ini pernah diketengahkan pada salah sebuah surat kabar pemerhati masalah kebudayaan beberapa waktu lalu: apakah terdapat teori-teori filsafat Arab, dan kenapa?

Jawaban-jawaban terhadap pertanyaan ini cukup beragam dan terkesan merisihkan. Ada yang mengingkari, meragukan ataupun menegaskan, akan adanya teori-teori filsafat Arab. Dan ini berhubungan dengan arah dari pertanyaan tersebut di atas. Sebagai contoh, kita tidak mempunyai teori-teori ilmiah yang dihasilkan oleh komunitas ilmiah Arab, karena komunitas ini pada dasarnya belum terbentuk sehingga ia dapat menghasilkan sejumlah teori, prestasi dan lembaga. Dan kita tidak mempunyai teori-teori pada bidang-bidang lainnya yang berhubungan dengan realita keseharian di era kontemporer sekarang ini. Maka ketika berusaha untuk memenuhi kebutuhan pada bidang ini, kita akan selalu kembali kepada praktek menghadirkan tradisi dan budaya silam. Kita selalu berusaha untuk menghadirkan harta tependam untuk menutupi kekurangan itu. Kenapa –secara khusus- kita memprediksikan pada satu sisi ilmu pengetahuan; yang berhubungan dengan pemikiran kesusastraan memiliki teori-teori Arab, sementara bidang-bidang ilmu pengetahuan dan kemanusiaan lainnya tidak memiliki teori-teori tersebut secara jelas dan pasti?

Lalu, apakah gerakan kritik terpisah dari kerangka filsafat dan otoritas keilmiahannya pada ilmu pengetahuan-ilmu pengetahuan yang berbeda, sehingga kita bisa menantikan dari gerakan tersebut munculnya teori Arab yang sketsa- sketsanya belum terlihat jelas dan pasti pada sisi-sisi ilmu pengetahuan lainnya?!

Hal tersebut adalah akumulasi pertanyaan- pertanyaan kompleks yang tumpang tindih satu sama lain, yang mesti kita hadapi dengan kesabaran dan perenungan.

Pertama-tama kita mulai dengan upaya untuk memberi defenisi terhadap sejumlah konsep. Upaya seperti ini merupakan langkah prosedur penting, dimana jika kita mampu melawatinya, maka kita akan dapat berbicara dengan bahasa yang komunikatif, karena mengungkapkan apa yang kita maksud, mesti berdasar pada kesepakatan terhadap terminologi-terminologi yang kita gunakan.

Apakah teori itu?
Menurut saya, sebuah teori mesti memiliki empat ciri tertentu yang menjadikannya pantas menyandang predikat tersebut, karena dalam bahasa sederhana, kita bisa saja memberi predikat “teori” untuk 'pikiran' apa saja.

Ciri pertama: bahwa ia memiliki sifat kemanusian secara umum. Teori pada salah satu tahapnya terkait dengan nalar manusia. Lalu pada tahap sekarang ini teori tidak lagi terkait dengan nalar dan logika. Akan tetapi terkait dengan ilmu pengetahuan.

Ciri kedua: ia harus bersifat ilmiah dan tidak bersifat ideologis. Terkadang sebuah teori diwarnai dengan kondisi ideologis yang cukup solid pada tahap kelahiran, perkembangan dan dalam proses menerimanya. Akan tetapi ia akan menjadi sebuah teori sesuai dengan tingkat keilmiahan yang dicapainya.

Ciri ketiga: ia menjelaskan fenomena-fenomena yang ia bahas. Dan dalam kasus yang kita bahas sekarang ini, ia harus membahas fenomena-fenomena kesusastraan secara khusus.

Ciri keempat: ia mampu melakukan transformasi dan perubahan dari masa ke masa.

Maka ketika sebuah teori tidak lagi dapat memenuhi syarat-syarat ini, ia akan berakhir masa berlakunya. Dan telah tiba saatnya untuk menyodorkan teori baru yang tidak memiliki aib-aib teori sebelumnya, untuk kemudian mengambil posisinya.

Ini adalah suatu hal yang jelas, dapat diterima dan lumrah serta terjadi pada ilmu-ilmu natural. Dan diperkirakan terjadi pada ilmu-ilmu kemanusiaan.

Teori kritik berhubungan dengan sastra dan seni untuk menjawab sejumlah pertanyaan mendasar, seperti: apakah sastra itu? Sebuah pertanyaan akan substansi yang telah dilontarkan sejak pertengahan abad lalu, dan masih terus dilontarkan sampai sekarang ini. Sekiranya kita menggunakan logika filsafat fenomenologi, kita cukup melontarkan pertanyaan lain yang dapat menggantikan posisi pertanyaan mengenai substansi tadi. Pertanyaan tersebut akan berbentuk seperti ini: apa fenomena -fenomena sastra itu? Pertanyaan seperti ini akan lebih ilmiah meskipun kurang substansial.

Dengan demikian pertanyaan tentang fenomena- fenomena dan jenis-jenis kesusastraan adalah pertanyaan utama dalam teori kritik apapun.

Pertanyaan kedua: apa jaringan kolerasi kreasi sastra dengan pihak-pihak lainnya, seperti hubungannya dengan kehidupan, kreatornya, dan hubungannya dengan penerimanya. Sebuah teori kritik harus mengetengahkan konseps tentang jaringan dari hubungan sastra dengan pihak-pihak yang beragam tersebut.

Pertanyaan ketiga: apa pungsi-pungsi yang diemban oleh kreasi sastra? Pungsi estetika, seni dan pungsi-pungsi sosial.

Pertanyaan terakhir: apa hubungan sastra spesifik dengan kerasi-kreasi seni lainnya yang juga merealisasikan sebagian dari pungsi-pungsi estetika tersebut? Hubungan sastra dengan musik, seni rupa dan seni-seni lainnya, termasuk seni modern seperti perfilman dan lain-lainnya.

Menurut saya, -teori kritik apapun- untuk dapat membentuk sistem yang terdiri dari prinsip-prinsip homogenis dan sempurna serta merealisasikan syarat-syarat sebuah teori, seharusnya mengemukakan konsep dasar tentang sisi-sisi tersebut, menjelaskan dan menyingkap bentuk pemahaman dan kerangka berpikir dimana ia berada.

Permasalahan lain adalah ketika kita berbicara tentang teori, kita memberinya sifat: 'Arabiyyah / ke-Araban. Dan jika kita sepakat mengenai konsep teori, maka hendaknya kita juga akan sepakat tentang konsep ke-Araban. Apa ke-Araban itu?

Apakah yang dimaksud adalah hubungan etnis pada sejumlah suku dan sekte-sekte serumpun pada sejumlah negara yang berbeda yang menempati satu kawasan geografis? Atau ia merupakan identitas nasional yang berpilar pada bahasa dan kebudayaan dengan seluruh komposisi-komposisi agama dan sipil?! Barangkali konsep ke-Araban lebih dekat kepada sisi filosofis jika dibandingkan dengan sisi etnis tadi. Sebagai contoh; orang-orang Mesir sama dengan orang-orang Syiria dan orang-orang Iraq, dimana ras mereka telah berbaur. Dan ide kejernihan etnis adalah sebuah legenda, dan siapa yang menganggap hal itu ada maka dia adalah seorang yang rasial. Ilmu antropologi telah menegaskan secara ilmiah bahwa bukan saatnya lagi untuk berbicara hal seperti itu. Dengan demikian paham ke-Araban adalah indentitas kebangsaan yang didasari oleh bahasa dan kebudayaan dengan seluruh komposisi-komposisi agama dan spritualnya. Sistem norma-norma yang telah menjadi ciri khas dari kebudayan ini, itulah yang merepresentasikan ke- Araban.

Ke-Araban ini mesti berbeda dengan identitas- identitas lainnya. Dia mesti bersifat lokal dan terbatas yang tidak melebur pada selainnya. Ia dapat berinteraksi dengan unsur-unsur yang berada di sekitarnya, dan unsur-unsur berhubungan dengannya. Akan tetapi ia tidak akan melebur ke unsur-unsur tersebut. Karena jika hal itu terjadi maka ia tidak dapat mewujudkan eksistensinya.@uS

* Di-Indonesiakan oleh: @uS, dari makalah: **Shalah Fadel: "Hal Tuwjad Nazhariyyah Naqd 'Arabiyyah?", Majalah Al-'Arabi: Wizaratu l-I'lam al-Kuwaitiyyah, edisi 560 - Juli 2005.
** Pemikir, cendikiawan dan kritikus Mesir. Lahir di Syabas al-Syuhada' Delta Tengah - Mesir pada tanggal 21 Maret 1938. Beliau adalah Guru Besar Kritik Sastra pada Fakultas Sastra - Universitas 'Ain Syams Kairo, Ketua Jurusan Studi Sastra - Institut Riset dan Studi Arab - Liga Arab Kairo, dan Anggota Lembaga Bahasa Arab Kairo.