Agnes Monica .. Nancy Ajram .. Majida El-Roumi

Pertama kali meresepsi itu,
Saya spontan teringat ini;

Kenapa itu mengingatkan ini?

Hmm ...
Barangkali
karena ke2nya menyentuh
hati dan akal saya
Dan barangkali
karena ke2nya memiliki
sejumlah kesamaan

Saya tidak melihat
makna [teruskanlah]
berbeda dengan makna
[inta eh .. musy kifayah .. musy haram]
Ke2nya menyampaikan pesan
dan keinginan yg sama ..
[makkogaro?]

ke2nya ingin mengatakan bahwa
manusia .. siapapun ia .. mempunyai keinginan
untuk senantiasa diterima
dan diposisikan sepantasnya

Hanya saja
ke2nya tak lebih dari ekspresi
sosok umum wanita Timur
yg bgmnpun diperlakukan tak pantas
tak akan merespon
kcl dgn memendam perasaan
[e .. kasi']

Ke2nya ditampik .. dan dikhianati
Dan semua itu dipertontonkan dgn sengaja
bukan hanya di hadapan ke2nya
tapi juga di depan mereka-mereka
yang telah menjadi bagian
dari komunitas dan kehidupan ke2nya
[bikin jengkel toh?]

Ke2nya hanya
bisa mengadu pada sebuah
kesenderian kebisuan dan kehampaan ..
[kaciannya kodong ]

Ke2nya meneteskan air mata
namun ke2nya tak menginginkan
tangisan itu diketahui kecuali oleh
diri ke2nya
Hanya krn ke2nya
menyakini bhw spt inilah
cara mempertahankan kebersamaan ..
[ah ya 'ainy]

Pada ke2nya nampak
kekecewaan yg berarah
kepada keputus-asaan dan
rasa kehilangan akan segalanya

Akan tetapi
saya tak melihat semua itu
sebagai suatu sinyal atau pertanda
akan hadirnya sebuah permintaan
untuk mengakhiri sebuah ikatan dan hubungan

Tentu saja
saya tdk akan dinilai
subyektif jika menyatakan
bahwa ke2nya dilantunkan
oleh 2 superstar yang
saya kagumi dan banggakan .. [belleimui]
ke2nya berparas manis
dan menyejukkan

Pada ke2 tembang ini
ke2nya ttp menjaga dan
menampilkan nilai2 tinggi
sebuah kreasi seni
Ya ..
ke2nya memang memiliki banyak kesamaan
Namun semuanya bisa dirangkumkan seperti ini;
manusia butuh untuk dihargai -
manusia butuh interaksi
cinta yg tak bertepuk sebelah tangan ...
[cinta mi-sedeng]
Banyaknya persamaan pd ke2nya ..
menjadikan perbedaan pada ke2nya ..
tdk perlu untuk dipersoalkan
Saya tak perlu untuk mmpersoalkan;
Kenapa rambut AM dimodel seperti itu?
Trus mengatakan NA nampak lebih ayu dan feminim

Tak perlu mempersoalkan;
NA memilih 'kamar kecil' [he he he ...]
t4 tuk meluapkan kesedihan
Kenapa ndak spt AM yg memilih alam terbuka ...
[toh?]

Dan pada dasarnya
ke2nya diberi anugerah
kecantikan yang sangat unik;
lain dari pada yg lain

Tidak hanya pada ke2 klip ini
ke2nya di mata saya merefleksikan
sebuah kecantikan yang tidak
menggoda .. mengusik
dan menggiurkan

Saya tidak menafikan
mereka sering berpenampilan
tak wajar dan berlebihan

Tapi
pada umumnya
saya melihat ke2nya adalah
bagian dari simbol2 anak
yang membuat saya se-akan2 memandang
k2nya bagai putri saya sendiri

ke2nya menyinarkan
kesan kesederhanaan dan
sikap apa adanya

Ke2nya memberi kesan
2wajah terbalut kepolosan
bahkan keluguan
[Ah .. betul ko eh!]

ke2nya
sangat menyejukkan
sungguh menenteramkan ...
menenangkan hati dan pikiran
[lebay ..]

jadi
Kalau pun perlu menentukan
titik perbedaan yg signifikan pada ke2nya
barangkali bisa diterjemahkan dalam
bentuk pertanyaan berikut ini;
Siapa dari ke2nya yg lbh revolusif
dalam mengungkapkan sebuah substansi?

Terus terang
Saya sdh berusaha
menyimak dan membaca
memperhatikan dan membandingkan
memikirkan dan berusaha tuk menyimpulkan

Tapi keputusan yg bisa saya ketengahkan
adalah ke2nya sekedar mendeskrifsikan bahwa;
ke2nya hanya sebatas pada ekspresi akan
pertanyaan2 dan keluhan2 yang hanya
berujung pada "Saya tidak menerima semua ini!"

Tentu saja semua ini
adalah level makna
yg mampu saya singkap
[tusykar]

Namun di balik itu
Pasti masih tersirat
Sejuta sketsa dan kemungkinan ...[akid]
Yang menurut sebagian orang
mesti ttp diprioritaskan
untuk disingkap
demi menciptakan pemisah
antara 2 makna;
yg tersurat
dan yg tersirat

Barangkali orang itu benar
Karena dengan begitu
saya tidak perlu prihatin
dan menyayangkan
Kenapa Ke2nya hanya
mengeluh dan tak menerima
dan sedikit pun
tidak meminta secara jelas
akan sebuah prihal yg kongkrit!?!
[oh .. makkoro di?]

Dengan kata lain;
Menyingkap Makna2 tersirat
Adalah tugas kita sbg
penerima atau perespon sebuah pesan
Barangkali
Saya masih sebatas
seorang yg sangat pasif
sehingga yg saya permasalahkan
dan yg saya tuntut adalah
paling tdk ke2nya
berkata seperti ini;
"Ana aiz kedah; .... !"
"Saya maunya begini; ....!"
[TapauI aga elo'ta Ndi! Kwkwkwkwk ...]

Hmm ..
Tapi saya merasa
Pertanyaan2 seperti ini
malah mengantar saya kembali
ke belasan tahun silam

Saya teringat
pd sebuah harapan
permintaan hati nurani
salah seorang simbol wanita Timur saat ini;
Majida el-Roumi:
"Kun shadiqi!"
"Jadilah sahabatku!"


Suatu 'hal' yang sangat indah
Seandainya sepasang anak manusia itu
menjadi dua orang yg bersahabat
untuk selamanya

Adakah AM - NA
mendambakan 'hal' itu
di saat ke2nya mempertanyakan;
"Ku hidup dengan siapa?
Ku tak tau kau siapa?"
"Dah awam?
Walla kan le'bah fi hayatak yitdawik?"

Tentu saja
Setiap wanita
mendambakan tangan
seorang sahabat

Pada dasarnya
adalah ambisi utama
pada diri seorang wanita;
terwujudnya makna
persahabatan yg utuh dan abadi

Nilai
dan sisi plus
yg dapat saya singkap
pada teks2 'Kun Shadiqi' adalah;
harapan .. keinginan .. permintaan .. ambisi
seorang Majida el-Roumi;
"Limadza
tahtammu bi syakli
wala tudriku aqli??"

"Persahabatan yang
memprioritaskan nilai2 substansif
dan tanpa mempermasalahkan sisi2 formalis"

Majida el-Roumi
adalah seorang sosok wanita
yang berani menampakkan
kegelisahan
sanggup menyatakan
cita-cita
mampu bangkit mendeklarasikan
visi dan misi
demi wajah sebuah
eksistensi

Barangkali
inilah yg membedakan
AM - NA pada sebuah titik lingkaran
sementara Majidah el-Roumi bertahta pada
sentral lingkaran

Klimaksnya
ketika ia meneriakkan;
"Ghaira anna sy-syarqiyya[h]
La y[t]ardha bi daurin ghari adwari l-buthulah"

"Wanita Timur
mst menunjukkan jati diri
melalui peran2 yg lbh heroik!"

@uS

Kritik Kultural; Hanya Menyorot Aib Sebuah Teks?

Kritik Kultural 'Cultural Criticism / al-Naqd al-Tsaqafi' adalah salah satu produk terbaru dalam dunia kritik pada umumnya. Metode ini mengkonsentrasikan diri pada dimensi kultural sebuah teori kritik.

Metode yang terbilang hadir pada tahap postmodernisme ini merupakan tahap mutakhir dari sekian loncatan spesifik di dunia teori kritik yang berkisar pada polemik kesastraan sastra – metakesastraan sastra 'adabiyyatul adab – mitaadabiyyatul adab'. Oleh sebab itu pertanyaan sentral dan signifikan yang dicuatkannya adalah "Apakah dalam karya sastra terdapat 'sesuatu yang lain' selain kesastraan?"

Dalam prakteknya, kritik kultural berupaya untuk mentransformasi perangkat kritik dari proses pembacaan estetis murni tanpa memandang ketimpangan-ketimpangan sistem yang ia miliki, menuju kritik dan penyingkapan ketimpangan-ketimpangan sistem sebuah wacana.

Dalam kategori sastra Arab misalnya, kritik kultural melihat adanya sistem-sistem kultural 'negatif' yang terimbas dari dan oleh karya sastra secara umum, dan puisi secara khusus. Pada tahap selanjutnya, ide dan nilai tertentu yang dikandung oleh karya-karya sastra ini berhasil melembagakan prilaku non-manusiawi dan non-demokratis di kalangan individu maupun komunitas Arab.

Pada intinya, kultur Arab -dimana puisi dinilai sebagai sesuatu yang paling urgen-, divonis telah memicu proses puitisasi diri dan norma. Puisi yang bernotabene 'Diwanul Arab' dijadikan sebagai standar dan kriteria dalam memandang segala bentuk nilai dan norma.

Oleh sebab itu, tugas utama yang diemban oleh kritik kultural adalah menelusuri ketimpangan-ketimpangan sistem pada profil Arab yang puititatif, sebagaimana terkandung dalam Diwanul Arab yang nampak jelas pada prilaku sosial dan kultural secara umum.

Tugas seperti ini sangat berlawanan dengan apa yang digeluti oleh kritik sastra 'Literary Criticism / al-Naqd al-Adabi' yang memfokuskan diri pada lini estetis teks. Kritik sastra di mata kritik kultural telah berhasil mengetengahkan ke dunia kesusastraan seni apresiasi dan resepsi estetis teks. Akan tetapi ia telah gagal dalam memproteksi diri dan dunia kesusastraan untuk tidak tergelincir ke dalam kondisi kebutaan kultural yang universal terhadap ketimpangan-ketimpangan sistem yang terselubung di balik tirai estetis. Ketimpangan-ketimpangan ini terus berkembang dan mendapat dukungan estetis; puitis maupun retorik, hingga menjadi sebuah simpel prilaku yang menghegemoni mental maupun fisik. Yang sangat disayangkan bahwa di luar kesadaran, simple-simpel yang sangat elegan ini telah menjadi sumber-sumber ketimpangan sistem.

Jadi, apa yang nampak sebagai sesuatu yang estetis dan modernis dalam standar studi sastra, adalah sesuatu yang reaksionis dan terkebelakang dalam standar kritik kultural.

***

Pada diri kultur Arab itu sendiri terdapat ketimpangan sistem yang berperan dalam membentuk sebuah wacana munafiq dan termanipulasi, tidak realistis, semu dan tidak rasional. Para pujangga di sepanjang sejarah kesusastraan Arab dinyatakan tidak luput dari tanggung jawab moral dimana mereka telah terlibat langsung dalam meletakkan dan mengembangkan wacana-wacana yang berpredikat buruk seperti itu.

Gambaran 'Aku yang tirani / ana t-thaghiyah', bukanlah suatu bentuk yang telah mengakar pada diri komunitas Arab, dan bukan sesuatu hal yang orisinal pada individu-individunya. Ia merupakan hasil lukisan kreasi puitis yang telah membias ke seluruh wacana dan prilaku budaya. Pada kesimpulannya, sistem kultural Arab secara universal adalah sebuah sistem yang dikuasai oleh sebuah lembaga bernama puisi. Sebuah lembaga yang menjadi subyek utama dalam pembentukan, pengembangan dan keberlansungan sistem kultural Arab.

Tidak bisa diingkari, puisi merupakan salah satu pilar terpenting dalam pembentukan profil Arab, yang telah mewarisi segala kebaikan dan keburukan yang dikandungnya. Ia telah memberikan nilai-nilai moral dan estetis yang sangat agung.

Akan tetapi yang perlu dikoreksi kembali adalah adanya komposisi-komposisi orisinal dari profil Arab itu sendiri telah dibentuk oleh puisi secara negatif; sektarian dan penuh egois, yang menciptakan corak-corak prilaku dan kultural yang selanjutnya menjadi ciri sangat signifikan dalam kehidupan komunitas Arab di sepanjang sejarah.

Apa yang dikenal dengan puisi pujian / al-mahid, telah memperkenalkan sebuah sistem moral yang seiring dengan waktu, tumbuh berkembang dan memformat sebuah gambaran akan hubungan sosial antar golongan di masyarakat Arab. Corak puisi semacam ini berpijak pada landasan kebohongan yang diterima oleh seluruh kalangan; pemuja, yang terpuja dan kalangan kultural di sepanjang masa. Semuanya menerima seni permainan kebohongan dan kemunafikan ini, bahkan ikut serta meramaikan dan menikmati, hingga permainan seperti ini menjadi sebuah tradisi sosio-kultural yang diminati dan dinantikan kehadirannya.

Puisi pujian adalah seni estetis paling efektif dalam kesusastraan Arab di masa keemasannya, sehingga wacana pujian seperti ini berhasil melekat pada pikiran dan jiwa komunitas Arab, meskipun tidak luput dari sketsa-sketsa yang sangat berbahaya, di antaranya; sketsa kultur pengemis munafiq, dan sketsa sang terpuja yang sarat dengan sifat-sifat yang terkemas puitis, egois, dan maha tinggi, jauh di atas garis realita dan kenyataan.

Pada corak dan tipe selanjutnya, puisi dan para pujangga telah membumikan nilai-nilai negatif pada kehidupan komunitas Arab. Nilai-nilai ini dapat simpulkan dari perkataan seorang pujangga bahwa, "Seorang penyair yang tidak memuji, tidak menghina, dan tidak membanggakan diri, hanya dinilai seperempat penyair saja". Oleh karena itu gambaran nyata dari kehidupan puisi Arab akan mengetengahkan profil penyair pengemis lugas dan cendikiawan munafiq (dalam al-madih), penyair tirani (dalam al-fakhr), dan penyair jahat nan menakutkan (dalam al-hija').

Di samping hal tersebut di atas, kharisma dan kepopuleran puisi telah memikau para kritikus dan kaum cendikia Arab yang terhimpun dalam dunia kritik sastra. Mereka terpicu dalam sebuah orientasi pengkristalan ide dan pemikiran yang mencerminkan ketimpangan sistem kultural Arab.

Hal seperti ini –misalnya- dapat kita temui dalam 'ide penyair superior / fikratu l-fahl', yang oleh kritik kultural dinilai sebagai kreasi puitis - kultural paling berbahaya, apalagi karena ide seperti ini berhubungan dengan konsep 'tingkat superior penyair / tabaqatu fuhuli sy-syu'ara', yang sarat dengan sikap individualis dan kesombongan. Mereka menempatkan para penyair sebagai 'para raja bahasa / asy-syu'arau umaraul kalam'. Ide seperti ini juga diaplikasikan secara munafiq ketika mereka meletakkan konsep Ilmu Balaghah Klasik yang mereka identikkan dengan "Menggambarkan kebenaran dalam bentuk kebathilan dan kebathilan dalam bentuk kebenaran".

'Aku seorang superior / ana l-fahl' adalah adegan yang sangat mendominasi dunia teks puisi Arab. Dengan demikian teks-teks tersebut dinilai sebagai sumber pengilhaman sikap narsisme pada diri bangsa Arab. Sikap pembesaran diri ini diiringi oleh keinginan kuat untuk menghapus keberadaan orang lain 'tadhkhimu z-zat wa ilghau l-akhar'.

Akan tetapi, apakah ada yang lebih terkutuk ketika menghilangkan keberadaan orang lain, dilakukan melalui tindakan lalim dan sikap tirani? Pelu diketahui bahwa, kelaliman seorang superior, bukan sekedar kelaliman reaktif, akan tetapi kelaliman yang aktif dan orisinal.

Seorang di antara mereka berteriak angkuh;
Bughatin zhalimina wa ma zhulimna #
Wa lakin sanabdau zhalimina
Para tirani, orang-orang lalim dan kami tak pernah terlalimi #
Bahkan kami akan memulai bersikap lalim

Apa yang disaksikan oleh dunia Arab dewasa ini, tidak lain adalah buah dari nilai-nilai negatif yang dikandung oleh teks-teks dan pemikiran puitis seperti di atas. Apa yang mewarnai wacana politik, pers, sosial, budaya, olahraga dan bahkan seluruh lini kehidupan Arab dewasa ini, adalah aplikasi dari ide "Ana l-fahl" dan konsep Balaghah Arab klasik "Tashwiru l-bathil fi shurati l-haqq".

***

Nampaknya, kritik kultural dalam mengetengahkan teori kritiknya berpijak pada sejumlah realita kehidupan yang menyentuh titik problematika yang dihadapi dunia Arab. Dan dalam proses analisa, kritik kultural mendapatkan teks-teks kesusastraan sebagai akar dan sumber pengilhaman terhadap problematika tersebut.

Ini merupakan titik lemah pada diri kritik kultural, karena ia bertolak dari kasus dan realita, dan tidak bertolak dari teks-teks kesusastraan itu sendiri. Perlu diketahui bahwa pilar-pilar yang membentuk kritik kultural ini di latar belakangi oleh sejumlah teori dan studi yang pada umumnya mengulas teori interaksi terhadap kultur dan bukan teori interaksi terhadap teks.

Oleh sebab itu mereka terkesan sangat dekonstruktif dalam menganalisa corak-corak puisi. Padahal teks-teks seperti ini sangat sarat dengan makna dan kemungkinan. Teks-teks kesusastraan adalah dunia simbolik yang membutuhkan proses interpretasi dan hermeneutika yang lebih empatik.

Dan ketika kritik kultural membabat habis sikap studi-studi yang hanya memperhatikan sisi estetis sebuah teks, maka sungguh kritik kultural ini pun telah jatuh pada lobang yang sama; ketika ia melihat bahwa sebuah teks hanya berwajah tunggal; hanya memiliki aib. Kritik kultural pun telah gagal ketika hanya menyoroti aib sebuah teks.@uS

Teori Kritik Arab ?!? [3-3]

Sastra kreatif yang ditulis dalam bahasa asing –secara relatif- dapat dikategorikan sebagai kreasi Arab, dan selanjutnya, kritik yang ditulis dalam bahasa asing juga bisa dikategorikan –secara relatif- sebagai kritik Arab.

Kita dapat memutuskan –secara spekulatif- bahwa kita betul-betul memiliki sumbangsih-sumbangsih teoritis dalam dunia kritik internasional. Hal ini nampak jelas ketika kita mengemukakan tiga kelompok atau tiga contoh nyata dari sumbangsih-sumbangsih tersebut.

Kelompok pertama: adalah apa yang biasa dinamakan dengan kritik oksidentalisme, yaitu kritik yang ditulis dalam bahasa-bahasa Barat yang dilakukan oleh orang-orang Arab yang memberi sumbangsih-sumbangsi teoritis kritik mereka dengan menggunakan bahasa-bahasa Barat, terutama bahasa Inggris dan Prancis. Secara khusus saya akan menyebutkan tiga kritikus yang tak seorang pun berbeda pendapat akan ke-Araban dan prestasi serta sumbangsih-sumbangsih mereka dalam mengembangkan teori-teori kritik internasional.

Contoh pertama: Edward Said yang telah mengemukakan teori utamanya yang bertolak dari orientalisme. Edward Said setidaknya adalah tokoh utama dalam teori post-kolonialisme. Ia juga merupakan salah satu pendiri penting dari kritik budaya dan analisa wacana. Edward Said menggunakan ideologi ke-Araban yang secara gigih membela hak bangsa Arab di Palestina, dan hal tersebut sama sekali tidak menutupi pilar pemikiran teoritisnya. Dan ini adalah kejeniusan seorang Edward Said.

Dia berhasil menggabungkan dua hal yang berlawanan; semangatnya yang tinggi dan pembelaannya yang gigih terhadap hak, eksistensi dan identitas Arab, berawal dari tulisan-tulisannya tentang orientalisme dan kemampuannya dalam merepresentasi hal tersebut secara ilmiah dan subyektif. Hal ini mengantarnya untuk meraih penghargaan dari seluruh bangsa Barat. Kita mengenalnya seteleh ia dikenal dan diakui oleh dunia internasional. Setelah ia membentuk diri dan menjadi salah seorang pendiri pemikiran kritik internasional.

Kita tidak dapat menghilangkan sifat ke-Araban dari Edward Said. Kita tidak dapat mengatakan bahwa sumbangsih-sumbangsih mumpuni dan efektif dalam bidang-bidang teori kritik kontemporer tidak memiliki sifat ke-Araban. Betul bahwa sebagian representasi, contoh dan analisanya tidak berbahasa Arab. Ia tidak mengecap kebudayaan Arab secara maksimal, meskipun ia sempat melewati jenjang pendidikan primer di Mesir pada dekade 40-an dan 50-an, lalu hijrah ke Amerika pada usia dini. Akan tetapi ia selalu menghabiskan masa liburnya dekat dengan Mesir yaitu di Beirut dan Syam, karena ia dicekal masuk ke Mesir karena masalah perdagangan. Ia menghabiskan waktunya di Beirut dengan melakukan diskusi dengan Sharl Malik; filosof kawakan Syam, untuk membela nasserisme. Edward Said adalah simbol perjuangan yang menakjubkan dan mengagumkan.

Contoh kedua: walaupun tidak setenar Edward Said, akan tetapi ia tetap sangat penting; Mushtafa Shafwan; salah seorang pendiri kritik struturalisme Prancis. Dialah yang menulis pasal khusus tentang kritik strukturalisme dalam sebuah buku memori bersama yang koordinasi oleh Todorov. Dia adalah murid Lakan; cendikiawan terkenal Prancis. Dia mewarisi dan mengembangkan mazhabnya, memarisi kliniknya di Paris dan memangku direksinya sekarang ini. Mushtafa Shafwan termasuk diantara pemberi sumbangsih utama dalam teori-teori strukturalisme dan post-strukturalisme dalam konteks ke-Prancisan. Betul bahwa sebagian pikiran-pikiran dan teori-teorinya tidak sejalan dengan kita, yang memaksa kita melakukan tindakan preventif, seperti seruannya sejak beberapa tahun yang lalu tentang pentingnya penerjemahan dalam bahasa ammiyah, dan contoh yang ia kemukakan berupa terjemahan Hamlet dalam bahasa Ammiyah Mesir. Akan tetapi kita tidak dapat mengingkari karya Mushthafa Shafwan dalam dunia kritik internasional.

Contoh ketiga: tidak jauh dari hal tersebut di atas; Ehab Hassan; seorang filosof post-modernisme, pencetus teori-teori teks, salah seorang tokoh pemikiran kritik Amerika. Betul bahwa ia terkadang menampakkan sikap preventif terhadap ke-Araban dan ke-Mesirannya. Dan itu adalah hak dia, sebagaimana kita berhak menerima atau menolak hal tersebut. Akan tetapi apa yang ia tulis dapat dikategorikan berindentitas Arab – Mesir. Dan ia juga dapat dikategorikan sebagai kritikus oksidentalis.

Kelompok kedua: dari aliran-aliran yang turut memberi sumbangsi dalam pengembangan pemikiran kritik teoritis kontemporer, terbagi kepada dua golongan. Dalam kritik Arab –misalnya- berkembang khususnya pada dunia akademik sebuah kelompok stylistics / al-uslubiyyah. Kelompok ini mengetengahkan kepada kita fenomena mengagumkan akan kemampuannya dalam memberi kontribusi teoritis dan terapan dalam pemikiran kritik internasional. Atas dasar faktor-faktor ini, saya menyimpulkan kenapa kelompok ini dapat diterima, disambut dan menyebar pada seluruh tataran kebudayaan Arab.

Kelompok al-uslubiyyah ini muncul dalam pemikiran Arab sejak dua generasi yang lalu. Berawal dari Amin al-Khuli, Ahmad al-Syayib, Al-Zayyat dan sejumlah tokoh yang mengingingkan terciptanya uslubiyyah Arab. Akan tetapi ia dikenal dan berkembang serta membuahkan hasil pada paruh kedua adad keduapuluh, melalui sejumlah pusat-pusat produksi ilmiah pada studi-studi akademik dan studi-studi terapan di seluruh penjuru dunia Arab; dari ujung timur Afrika di Maroko tempat berkembanganya aliran uslubiyyah di tangan tokoh-tokoh seperti: 'Abdussalam al-Misaddi, Muhammad al-Hadi al-Tarabelsi, Hammadi Shammud, Muhammad al-'Umari, dan Al-Hamid al-Hamadani. Di negeri Syam tedapat tokoh-tokoh uslubiyyah yang memiliki kapabilitas keilmiahan yang mumpuni seperti: Munzir al-‘Ayyasy yang telah menerjemahkan dasar-dasar dari studi-studi uslubiyyah.

Dan kita dapat merepresentasikan perealisasi sesungguhnya dari aliran uslubiyyah dalam tulisan-tulisan Syukri 'Ayyad, Mushthafa Nashif, Muhammad 'Abdul Muththalib, Sa’ad Mashluh dan penulis makalah ini.

Pengembangan paradigama, teoritis dan terapan yang subur dan kaya, yang telah dilakukan oleh kritikus-kritikus yang membahas puisi, cerita, novel dan wacana kesusastraan pada umumnya dengan analisa-analisa uslubiyyah, merupakan kontribusi sesungguhnya kepada pemikiran kritik kontemporer.

Kelompok ketiga dan terakhir: yang saya nilai telah mengemukakan sampel sesungguhnya dari kontribusi Arab dalam teori-teori kritik kontemporer, adalah kelompok yang sering disebut dengan kritikus puisikal / syi’riyyah. Puisikal adalah terminologi yang tidak hanya terbatas pada ragam puisi saja. Akan tetapi juga meliputi narasi-narasi dan ragam perkataan lainnya. Dan sekiranya saya menyebut tokoh-tokoh di bidang ini, maka saya tidak akan dapat memenuhi hal-hal terpenting yang mereka miliki. Akan tetapi saya tidak dapat melupakan nama-nama vocal seperti: 'Izzuddin Ismail, Jabir 'Asfour, Mahmud al-Rabi’i, Shabri Hafizh, Kamal Abu Dib, Muhammad Miftah, Muhammad Barradah, 'Abdul Fattah Kilithu, Said Yaqthin, Faishal Darraj, dan 'Abdullah al-Ghazzami. Bahkan dapat dikategorikan dalam bagian ini sebagian dari kreator senior yang turut memperkaya studi-studi puisikal, seperti Adonis dalam tulisan-tulisannya tentang puisikal. Dan dilanjutkan oleh generasi baru yang terdiri dari penulis dan kritikus muda. Saya yakin bahwa tulisan-tulisan mereka telah memberi nilai tambahan yang sesungguhnya terhadap teori puisikal yang dapat mempersonifikasikan kontribusi Arab kepada kita semua.

Yang menjadi permasalahan adalah penjara bahasa. Dengan kata lain bahwa penulis –siapapun dia- yang pintar akan menerbitkan novel, karena novel adalah suatu hal yang mudah disusun dan keuntungan publik, prilaku dan moral sangat memadai. Dan sangat mudah kita dapatkan orang-orang yang mampu menerjemahkannya. Akan tetapi siapa yang mumpuni dalam menerjemahkan sebuah pasal dari pasal-pasal yang memiliki pemikiran yang dalam dan hakiki yang telah diketengahkan oleh sosok seperti Mahmud Amin al-'Alim, seorang profil yang telah banyak memberi kepada generasi-generasi sekarang ini.@uS

Teori Kritik Arab ?!? [2-3]

Termimologi Rancu.
Hasil yang dapat kita deduksi dari defenisi dasar di atas; bahwa terminologi “Teori Kritik Arab” adalah terminologi rancu. Saya telah menulis sebuah makalah dengan judul seperti ini lima belas tahun yang lalu, karena saya melihat adanya kontradiksi antara dua sisi dari termeinologi tersebut. Sebuah teori untuk dapat dikategorikan “teori”, ia harus memiliki ciri kemanusian dan bersifat global untuk seluruh bangsa. Dan untuk menyandang sifat “’’Arabiyyah / ke-Araban” ia harus memiliki ciri kebangsaan yang berhungan dengan indentitas kebangsaan yang terbatas. Maka mengumpulkan keduanya merupakan proses penggabungan hal-hal yang kontradiktif.

Ketika kita memaparkan sejarah teori-teori, kita tidak dapat berbicara tentang teori Prancis dalam ilmu pengetahuan, atau teori Inggris dalam seni, karena kemungkinannya adalah apakah dengan klaim seperti ini akan menjadikan teori itu tergolong ilmiah atau tidak. Adapun masalah; dimana ia muncul? Dalam bahasa apa ia berkembang? Dan dari rahim budaya mana ia dilahirkan?, merupakan tema lain yang tidak dapat dijadikan alasan untuk memberikan sifat kebangsaan kepadanya, atau menisbatkannya kepada sebuah identitas atau bahasa. Akan tetapi yang kita saksikan pada lingkup internasional, adalah adanya kontribusi-kontribusi radikal melembaga yang dilakukan oleh bangsa-bangsa yang beragam.

Dalam teori-teori kritik –secara khusus- tentu saja terdapat kontribusi-kontribusi Prancis, Inggris, Jerman dan Amerika terhadap teori-teori kritik kontemporer. Lalu apakah ada kontribusi-kontribusi Arab dalam teori-teori kritik kontemporer tersebut?

Teori adalah sebuah sistem berpikir homogenis yang memiliki sejumlah syarat. Munculnya sebuah teori mesti seiring dengan adanya kemampuan berpikir sistematis tentang sejumlah prinsip yang solid dan mengantarnya kepada tahap yang sangat abstraktif dan integral di satu sisi, dan dapat diterapkan secara ilmiah pada sisi lainnya. Hal seperti ini membutuhkan ruang kebebasan yang luas. Seorang teoretikus tidak mesti konsisten dengan hal-hal permanen atau bertolak dari aksiomatis yang tidak dapat dilanggar, karena jika hal itu terjadi, ia hanya akan berpungsi sebagai penjelas, dan bukan seorang teoretikus.

Maka syarat utama untuk menciptakan teori adalah memiliki kebebasan dan kemampuan untuk melepaskan diri dari ideologi; kepercayaan religius, aliran-aliran politik, kecenderungan pribadi dan ambisi nasional.

Pemilikan seorang peneliti terhadap kebebasannya yang utuh merupakan titik tolak utama menuju sikap filosofis, karena sikap yang dimulai dengan mengasumsikan hal-hal yang aksioma dan permanen yang tidak dapat dilanggar, sama sekali tidak melebihi status sebagai penjelas dari prinsip-prinsip dan hal-hal yang aksioma tersebut.

Dalam pemikiran Arab, menurut hemat saya, -semoga saya tidak salah- terdapat nalar-nalar matang dan bakat-nakat murni serta kemampuan yang dimiliki oleh orang-orang kita sendiri yang memiliki pilar-pilar filosofis dan keberanian yang direfleksikan oleh kebebesan.

Syarat kedua: bahwa struktur-struktur teoritis tidak lahir sekaligus, akan tetapi ia selamanya tercipta dalam komunitas-komunitas dan rahim-rahim yang dapat mendukung dan melindunginya. Dalam arti bahwa sebuah struktur teoritis tidak dimulai dari titik nol. Ia selamanya bertumpu pada prestasi-prestasi sebelumnya yang dipilah oleh peneliti secara seksama, lalu dijadikan tumpuan sesuai dengan konsep pemikiran akumulasi epistimologi. Kemudian ia mengaflikasikan bagian-bagian yang ia pilah untuk memproduksi sampel teoritis, dengan merealisasikan apa yang disebut dalam epistemologi dengan alienasi epistemologi.

Sebagaimana diketahui bahwa terminologi “alienasi epistemologi / al-qathi’ah al-ma’rifiyyah” adalah terminologi bereputasi jelek dalam kebudayaan Arab, karena ia selalu dipahami sebagai penghapusan masa lalu dan ketidak pedulian terhadap tradisi serta melompatinya. Padahal terminologi ini tidak berarti seperti itu. Alienasi epistemologi adalah mengkomsumsi habis-habisan karya-karya masa lalu dalam waktu tertentu -dan tidak berarti mengenyampingkan dan melompatinya- untuk selanjutnya membangun konsepsi yang kontra dengan karya-karya masa lalu tersebut. Akan tetapi sekiranya akumulasi ini tidak ada, maka kita sebagai teoretikus dan cendikiawan tidak dapat menciptakan alienasi. Artinya, saya tidak mengalienasi apa yang saya tahu dan melewatinya, akan tetapi saya mengalienasi apa yang saya tidak tahu.

Dengan demikian, kita mengatakan bahwa syarat kedua: adalah akumulasi epistemologi, atau kita seharusnya membangun struktur-struktur kita dengan bertolak dari prestasi-prestasi orang lain, karena setiap pekerjaan atau pikiran yang dimulai dari titik nol, tidak akan dapat mengkualifikasi seseorang ke struktur teoritis konperhensif.

Barangkali kita memiliki ciri yang membantu ciri akumulasi epistemologi yaitu ciri kebaktian, yang tercermin pada guru-guru generasi kita ini. Kita semua beranggapan bahwa diri kita ini adalah perpanjangan dari aliran para pemikir seperti Thaha Husain, Ahmad Amin, 'Abbas al-'Aqqad, Zaki Najib Mahfuzh dan seterusnya.

Di sini jelas bahwa akumulasi epistemologi setidaknya terealisasi pada diri kita, sebagaimana syarat pilar filosofis terealisasi, meskipun syarat akumulasi keilmiahan tidak terealisasi sesuai dengan kadar yang diharapankan; belum membentuk kreasi seni, dan belum menjadi tabiat riset kita. Kita mesti berusaha keras untuk menjadikannya sebagai tabiat riset kita dan bagian dari tradisi ilmiah kebangsaan.

Syarat ketiga: adalah syarat problematik, yang saya namakan dengan menerobos rintangan. Pemikiran regional yang terbatas tidak akan dapat memproduksi pigur pemikiran pada tingkat kemanusian yang konperhensif, kecuali ketika ia dapat menerobos sejumlah rintangan.

Menurut saya ada tiga penghalang utama yang mesti diterobos:
Rintangan pertama: adalah rintangan dalam melakukan komunikasi langsung dengan produk kemanusian. Seorang pemikir harus mempunyai jalur yang menghubungkannya dengan produksi kemanusiaan; bahasa kedua selain bahasa ibunya yang ia gunakan dalam berbicara dan menulis. Barangkali ada orang yang mengatakan, bahwa terjemahan telah mengemban tugas seperti ini. Akan tetapi –menurut saya- terjemahan hanya akan memberikan; apa yang diinginkan oleh penerjemah, apa yang diperbolehkan oleh orang lain, dan tidak menyodorkan kepada kita pengetahuan yang kita inginkan di saat kita butuh untuk mengetahuinya. Dengan demikian seorang cendikiawan, peneliti dan pemikir serta mereka yang berkeinginan mempunyai pilar teoritis, sumbangsih kemanusiaan, mesti memiliki jalur yang menghubungkan mereka secara langsung dengan produk kemanusiaan, dan rintangan seperti ini mesti ia terobos.

Rintangan kedua: yang lebih rumit dan detail, yaitu rintangan psikologi dan ideologis. Misalnya: kita melewati masa dimana permusuhan –terhadap Barat secara umum, dan terhadap Amerika secara khusus- telah menjadi slogan-slogan keseharian yang kita angkat siang malam, mengutuk Bush, memaki penjajahan, memusuhi Barat dan mengambil sikap kontra terhadapnya, dimana Barat mengkonspirasi, memerangi dan menuduh kita sebagi teroris serta memporak-porandakan bangsa kita. Sepintas, hal-hal tersebut di atas akan membentuk rintangan psikologi dan ideologis. Dan orang-orang yang mengekspos hubungan intim dengan Barat, sekarang ini menjadi malu dengan apa yang mereka lakukan. Saya adalah salah seorang diantara mereka yang malu dengan hubungan seperti ini. Saya tidak sanggup untuk membongkar rahasia ini, karena sejumlah kondisisi kejiwaan, kebangsaan dan nasional, yang pasti akan menempatkan kita dalam posisi krisis. Akan tetapi, apakah hal seperti ini akan membawa kita untuk memperkuat alasan-alasan alienasi dari konteks produksi ilmu pengetahuan terutama pada ilmu-ilmu natural dan humaniora, karena Barat yang terkutuk ini melancarkan perang kepada kita?!

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin mememori sebuah sikap serupa, yang dihadapi oleh generasi pelopor itu sendiri; generasi Thaha Husain yang kita jadikan sebagai teladan, dimana ia lahir pada sebuah negeri yang dijajah oleh orang-orang Eropa -di saat Amerika belum memenuhi syarat untuk dapat dikategorikan sebagai sebuah negara adi daya-. Bagaimana sikap Thaha Husain terhadap penjajahan? Ia menghadapinya dengan sikap nasionalisme, menjalin persahabatan yang kuat, intim dan kaya dari sudut keilmiahan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Bagaimana ia dapat memberi solusi terhadap problematika dengan sangat pleksibel di kalangan generasi muda di masanya? Ia tidak melarang generasi muda Arab yang sedang melawan kekuatan kolonial Barat untuk mengajukan –misalnya- pertanyaan-pertanyaan tentang rahasia kemajuan Anglo-Saxon, mendengungkan kebudayaan Prancis atau kebudayaan-kebudayaan dan prestasi-presasi pemikiran, keilmiahan dan kreasi Barat. Karena hal ini adalah masalah yang sama sekali tidak berhubungan dengan masalah kolonialisme. Mereka melakukan hal itu bukan karena sekedar tipuan cerdik untuk melepaskan diri dari krisis. Akan tetapi untuk mencari perangkat-perangkat perlawanan sesungguhnya. Karena melawan penjajahan tidak mungkin hanya dengan memiliki senjata yang tidak mampu kamu produksi dan bukan dengan prangkat-prangkat yang kamu tidak kuasai pengaplikasiannya. Akan tetapi solusi itu dengan memiliki ilmu, seni dan pengetahuan.

Rintangan ketiga: apa yang saya namakan dengan rintangan wawasan. Misalnya: berbicara tentang kritik sastra, maka terdapat sastra-sastra kemanusian lainnya yang kaya seperti sastra Arab. Dan sekiranya para kritikus dan teoretikus kita dapat memberi kontribusi terhadap teori epistimologi kritik, maka perhatian mereka seharusnya tidak hanya terbatas pada prestasi dan karya sastra Arab saja. Akan tetapi juga harus memperhatikan prestasi dan karya kemanusiaan secara umum sehingga mereka dapat mendeduksi tata cara produksi. Pemikiran lokal tidak cukup untuk menciptakan pemikiran kemanusian yang universal. Misalnya: kita belum dapat menciptakan teater dengan kadar memadai. Kita telah berusaha mengembangkannya di komunitas Arab dalam kurung dua abad dan belum berhasil menuai hasilnya. “Direksi teater” gagal pada umumnya. Dan hal ini berbuntut pada realita yang menyatakan bahwa teater hanya sekedar pementasan-pementasan lawak, pengeksposan tubuh, nyanyian dan seterusnya. Akan tetapi apakah kita putus asa terhadap teori teater, karena kita gagal mengembangkannya di komunitas Arab, dan belum mendapatkan warisan dari karya-karya Taufiq al-Hakim di masa sekarang ini. Akan tetapi teater dunia mempekenalkan kepada kita aliran-aliran lain. Menurut hemat saya, seorang yang mempelajari kritik sastra mesti melewati wawasan lokalnya yang terbatas, untuk mampu memberi sumbangsih teoritis yang lebih signifikan.@uS